Sunday, November 13, 2011

Ayahku, Pria Nomor 1!!


Keluarga adalah sekelompok manusia yang terdiri dari ayah, ibu, dua orang kakak laki-laki, dan satu anak perempuan yang tumbuh bersama di sebuah tempat yang disebut rumah, yang saling berinteraksi,  menciptakan kenangan, saling berbagi tawa, terkadang menangis sembunyi-sembunyi karena merasa kesal akibat perlakuan dari salah satu di antaranya, ataupun terkadang harus saling memaki, namun yang pasti akan selalu merayakan kebahagiaan bersama. Paling tidak itu adalah definisi keluarga bagiku. Keluargaku adalah segalanya, papaku, mamaku, kedua kakak laki-laki ku, dan aku.


Papa, ia adalah seorang ayah yang paling hebat, suami yang paling bertanggung jawab, seorang anak yang berbakti, dan seorang pria yang sangat menyenangkan. Aku sangat berterima kasih kepada nenekku karena telah melahirkan papaku, serta kepada Tuhan yang mempertemukannya dengan mamaku dan menjadikan mereka pria dan wanita yang saling berjodoh. Aku sangat menyayangi papaku. Aku ingat, papaku pernah bercerita bahwa sebelum aku lahir, ia ingin sekali memiliki anak perempuan karena mamaku terus saja melahirkan anak laki-laki. Menurut ceritanya, suatu hari mamaku kembali mengandung dan mereka belum mengetahui jenis kelamin apa anak ke tiga mereka kelak, papaku duduk sendiri di teras menatap langit dan berdoa. Papa bilang bahwa ia berdoa kepada Tuhan untuk memberikan petunjuk mengenai jenis kelamin anaknya kelak. Papaku berkata, “Ya Allah, berikanlah petunjuk bagiku. Jika anakku perempuan, tunjukanlah dengan bintang jatuh dari arah kanan ke kiri dan jika laki-laki tunjukanlah dengan bintang jatuh dari arah kiri ke kanan”. Percaya tidak percaya, akhirnya bintang itupun jatuh dari arah kanan ke kiri, dan pada tanggal 9 Mei 1991 mamaku melahirkan anak perempuan, dan lahirlah aku. Maka dari itu, papaku memberiku nama Kartika Paramitha yang berarti bintang yang sempurna.


Mendengar cerita papaku tentang filosofi namaku dan mengetahui betapa ia sangat menginginkan kehadiranku di dunianya, membuatku merasa sangat berarti. Sewaktu kecil, aku sangat suka diajak terbang oleh papa, ia taruh tubuhku di kakinya, ia rentangkan tanganku dan mengayunkan ku kesana kemari. Aku menjadi mitha si pesawat terbang. Papa yang selalu memakaikan kaos kaki sebelum aku berangkat sekolah, yang mengajariku bagaimana mengikat tali sepatu, yang mengeringkan rambutku setelah aku mandi, yang menjemputku pulang sekolah, dan yang selalu bilang bahwa aku adalah anak perempuannya yang paling cantik di dunia anak-anak.
Sewaktu remaja, papa menjagaku tanpa mengekang. Papa selalu mengirimkan sms padaku yang berisi “Kartika? Pss? –Ppsyg” yang artinya “Kartika, dimana? (tertanda papa sayang)”. Papa akan selalu menungguku pulang, yang tidak akan tidur sebelum aku menginjakkan kaki di rumah. Papa sangat ramah terhadap teman-temanku, karena keramahan dan sosoknya yang menyenangkan teman-temanku memanggilnya “Om Ganteng”.  Papaku memang sangat tampan dan sangat ahli dibidang musik. Tiap malam papa akan selalu mendengarkan musik dan bermain gitar. Aku sangat menyayangi papaku.

Suatu hari saat aku sedang berlatih basket di kampus, kakakku menelpon untuk mengabari bahwa aku harus pulang ke rumah karena telah terjadi sesuatu terhadap papaku. Bingung, panik, dan takut berkecamuk menjadi satu. Di perjalanan pulang aku hanya bisa menangis dan berdoa agar dapat bertemu papaku dan melihatnya baik-baik saja. Sesampaiku di rumah, yang kudapati hanya ibu-ibu berkerudung, tanteku dan rumah tanpa papa, mama, maupun kedua kakakku. Tanda tanya besar “Dimana papa?” muncul dibenakku. Hari itu adalah kamis kelabu bagiku, 19 tahun kurang tiga hari aku hidup bersama dia yang kusebut Papa. Tepat 3 hari sebelum ulang tahunku papa meninggal dunia. Papa meninggal di stasiun kereta api akibat terkena serangan jantung tepat sebelum ia berangkat berlibur ke kampung halamannya, Solo. 6 Mei 2010.
Dear, Allah.. tolong jaga papa yaa, dan sampaikan salam mitha buat papa. Mitha kangen, pa..

P.S. I Love you, papa..


your daughter,
Kartika

No comments:

Post a Comment